BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Muqodimah
Muhammadiyah sebagai
organisasi sosial keagamaan, diakui secara faktual tidak banyak memiliki lembaga
pendidikan pondok pesantren. Jika mau kita bandingkan, jumlah pondok pesantren
yang dimiliki / dikelola oleh Muhammadiyah, jumlahnya sangat tidak sebanding dengan
lembaga pendidikan formal non pesantren ( umum ). Sehingga sangat kita rasakan,
jika di Muhammadiyah kekurangan tenaga da’i dan mubaligh dari kalangan
pesantren untuk kepentingan dakwah Muhammadiyah. Yang ada sekarang ini, banyak
di dominasi oleh oleh para da’i dan mubaligh dari kalangan kampus. Hal ini
ditegaskan oleh KH. MS. Ibnu Juraimi ( mantan Direktur Pendidikan Ulama Tarjih
Muhammadiyah ). Kalaupun ada beberapa da’i dan mubaligh dilingkungan
Muhammadiyah yang berasal dari kalangan pesantren, bisa dipastikan jika hampir
sebagian besar bukan jebolan / alumni pondok pesantren Muhammadiyah. Sehingga
apa yang disampaikan dalam dakwahnya, kadang tidak selaras atau kurang memahami
apa yang menjadi substansi dari paham serta ideologi Muhammadiyah.
Senada dengan pendapat
tersebut, KH. Ahmad Azhar Basyir, MA kepada Bp Zaini Munir Fadhali ( saat itu
Ketua Majlis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY ) bahwa kalau
Muhammadiyah tidak mengembangkan basis pendidikan keagamaan seperti pesantren,
maka 20 tahun ke depan Muhammadiyah tidak layak lagi menyandang gelar ormas
keagamaan. Muhammadiyah tidak akan ada bedanya dengan organisasi non keagamaan
seperti KNPI, KOSGORO, dll. Bahkan mungkin juga tidak jauh beda dengan
organisasi sosial politik karena ditubuh Muhammadiyah tidak ada lagi ‘ ruh
spiritualitas ‘ dan cita – cita ideologis yang membedakannya dengan
organisasi lain.
B.
Latar
Belakang
Muhammadiyah
sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang telah bertahan hingga 1 abad
lebih, telah banyak memberikan sumbangsih pada kemajuan bangsa ini. Banyak
tokoh – tokoh besar yang berjasa pada republik ini, lahir dari rahim
Muhammadiyah. Juga diakui oleh banyak pihak, Muhammadiyah telah banyak
melahirkan kaum cerdik cendikia hingga bangsa kita menjadi bangsa yang
tercerahkan. Tidak hanya itu, Muhammadiyah juga tidak sedikit melahirkan ulama
– ulama besar yang karenanya umat Islam di Indonesia tidak lagi termarginalkan
seperti dulu. Banyak tokoh – tokoh Islam yang nota bene adalah juga tokoh
Muhammadiyah, memegang peran penting dalam memajukan Islam di Indonesia. Mereka
telah mampu menempatkan umat Islam pada posisi yang mulai diperhitungkan dalam
interaksi nasional maupun internasional.
Secara
umum, perkembangan Islam di Indonesia makin memberikan harapan bagi
terbangunnya kekuatan Islam modern. Tapi secara spesifik, Muhammadiyah yang
merupakan bagian dari Umat Islam__ yang keberadaannya sangat strategis bagi
kemajuan Islam di Indonesia__, menghadapi tantangan besar yang harus di sikapi
secara serius dan sungguh – sungguh. Sebagaimana diakui banyak pihak,
Muhammadiyah memang menjadi gudangnya kaum intelektual. Tetapi Muhammadiyah
makin hari makin dirasakan krisis kaum spiritual ( ulama ). Sebagai warga
Muhammadiyah, tentu kita juga bisa merasakan bahwa memang saat ini Muhammadiyah
mulai mengalami krisis ulama / tokoh agama. Dalam skala yang lebih kecil
misalnya, di cabang Kaliwungu khususnya ranting Krajankulon. Jujur harus kita
akui, kita semakin sulit untuk mendapatkan kader muda Muhammadiyah yang
memiliki kemampuan sebagai dai dan mubaligh. Tidak sebanding dengan jumlah
masjid dan musholla yang dididirikan yang bertebaran di hampir semua desa di
wilayah kecamatan Kaliwungu. Yang terjadi justru, para pendakwah di masjid –
masjid dan musholla milik persyarikatan Muhammadiyah adalah para pendakwah yang
murni bukan kader / mubaligh Muhammadiyah. Inilah yang menjadi agenda besar
bagi Muhammadiyah kedepan. Yaitu melahirkan kaum ulama – ilmuwan untuk menjaga
kontinuitas dakwah Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan yang
bercirikan gerakan amar ma’ruf nahi munkar.
Muhammadiyah
boleh, atau bahkan harus banyak melahirkan tokoh politik dan kaum intelektual.
Tetapi untuk menjaga “ ruh “ dan komitmen Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan
yang senantiasa memberikan bimbingan, pencerahan, tentu juga wajib melahirkan
lebih banyak lagi tokoh agama. Mengapa ? perlu kita ingat, Muhammadiyah
berkembang di Indonesia hingga manca negara, di bawa oleh para ulama / tokoh
agama. Orang tidak paham dan tidak akan menerima ideologi Muhammadiyah, jika
yang menyampaikan / mendakwahkan organisasi ini tidak memiliki pengetahuan
agama yang cukup. Muhammadiyah bisa diterima di masyarakat sebagai sebuah
ideologi yang bersumber pada Al Qur’an dan Hadits, pasti akan mengalami proses
dialogis dan argumentatif. Lebih ekstrim lagi, bahkan sampai pada terjadinya
pertentangan ideologis dengan paham – paham / ideologi lain. Secara logika,
jika yang mendakwahkan Muhammadiyah tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup,
bagaimana Muhammadiyah bisa diterima masyarakat luas ?
Kesimpulannya,
jika Muhammadiyah krisis ulama, akankah Muhammadiyah tetap eksis dengan cita –
cita ideologisnya ? Muhammadiyah memang akan terus berkembang di masa – masa
yang akan datang. Tetapi barangkali, wajah Muhammadiyah yang akan datang
berbeda dengan wajah Muhammadiyah pada awal – awal Muhammadiyah didirikan. Bisa
jadi, Muhammadiyah yang akan datang, adalah Muhammadiyah yang kering akan nilai
– nilai religiusitasnya. Tidak akan ada lagi “ ruh “ dalam tubuh
Muhammadiyah yang menjadikannya sebagai organisasi sosial keagamaan dan
kemasyarakatan yang senantiasa komitmen terhadap semangat amar ma’ruf nahi
munkar. Yang ada adalah Muhammadiyah yang sarat dengan pragmatisme,
materialisme dan sekuler / liberal. Tidak ada lagi Muhammadiyah yang komitmen
terhadap nilai – nilai perjuangan, pengorbanan dan semangat mencerahkan. Oleh
karena itu, penting memikirkan secara sungguh – sungguh agar Muhammadiyah
jangan sampai mengalami krisis ulama. Melalui pendidikan Muhammadiyah yang
menitikberatkan pada pengetahuan agama, lebih khusus lagi melalui pendidikan
pondok pesantren, diharapkan Muhammadiyah akan terus melahirkan kader – kader
ulama yang intelektual.
Dilatarbelakangi
oleh keprihatinan kita bersama akan semakin krisisnya kader ulama dilingkungan
Muhammadiyah, dan untuk merespon serta menjawab tantangan Muhammadiyah ke
depan, maka Muhammadiyah ranting Krajankulon melalui rapat pimpinan, akhirnya
memutuskan untuk mendirikan Pondok Pesantren “ AL MANAR “ diatas tanah wakaf
seluas + 2.250 m2 yang terletak di kampung Sawahjati RT 02 / RW 04 dan
RT 04 / RW 04 Desa Krajankulon Kec. Kaliwungu yang merupakan wakaf dari warga
Muhammadiyah Hj. Musyarofah. Seiring berjalannya waktu, beban dan tanggung
jawab untuk mendirikan pondok dengan harapan besar itu, terasa cukup berat jika
hanya dipikul oleh pimpinan dan warga Muhammadiyah setingkat ranting. Atas
masukan dan saran dari beberapa pimpinan yang lain, akan lebih mudah, ringan
dan cepat jika pendirian pondok ini melibatkan Muhammadiyah tingkat cabang.
Melalui pembicaraan dan diskusi yang intensif dengan Pimpinan Cabang
Muhammadiyah Kaliwungu, diputuskan untuk memikul secara bersama – sama antara
Pimpinan Ranting Muhammadiyah Krajankulon dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah
Kaliwungu. Kemudian terbentuklah panitia pendiri Pondok Pesantren Al Manar
Muhammadiyah Kaliwungu Kendal yang merupakan gabungan unsur pimpinan ranting
dan cabang berdasarkan SK No : 336/IV.0/D/2013 tentang pengangkatan dan
penetapan panitia pendiri Pondok Pesantren Al Manar Muhammadiyah Kaliwungu
Kendal.
Ada
satu hal yang perlu disampaikan di sini bahwa, penggunaan nama AL MANAR memang
tidak terlepas dari Pondok Pesantren Al Manar Pengasihan Kulon Progo Daerah
Istimewa Yogyakarta. Inipun bukan faktor kebetulan jika menggunakan nama yang
sama. Ada fakta sejarah antara pondok Al Manar Kaliwungu dengan pondok Al Manar
Kulon Progo. Perlu kami uraikan disini sebagai bagian dari sejarah pendirian
pondok, ide awal pendirian pondok bermula saat beberapa kader Muhammadiyah
seperti : Edy Hansa, SE, Amar SE, Lutfi Achyani, S.Pd mengadakan diskusi ringan
dan informal disebuah kantin Pondok Darul Arqom IV Ringin Arum di sela – sela
kegiatan RAPIMDA Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Kendal. Substansi dari diskusi
tersebut adalah seputar keprihatinan kita mengenai masa depan Muhammadiyah
khususnya cabang Kaliwungu yang mulai mengalami krisis kader ulama.
Keprihatinan ini, sebelumnya juga pernah kami sampaikan pada Ust Syaefuddin
yang merupakan kader Muhammadiyah asli Kaliwungu yang merupakan alumni
Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah ( PUTM ) PP Muhammadiyah. Yang
bersangkutan saat ini dipercaya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al Manar
Muhammadiyah Kulon Progo. Gayung bersambut, yang bersangkutan bersedia membantu
dengan menawarkan kerja sama pendirian pondok di Kaliwungu. Wacana yang muncul
pada saat itu adalah, pondok Kaliwungu nantinya merupakan fillial dari Pondok
Al Manar Kulon Progo.
Dari
hasil diskusi di kantin pondok Darul Arqom Ringin Arum, kami menginginkan
pendirian pondok yang memang menjadi milik / amal usaha Muhammadiyah
Krajankulon mengingat di ranting kami ada tanah wakaf seluas + 2.250 m2
yang sampai saat ini masih terbengkalai dan belum ada pemanfaatannya sama
sekali. Dari diskusi itu, kami sepakat untuk membawa masalah ini ke rapat PRM
Krajankulon. Alhamdulillah gagasan itu mendapat dukungan penuh dan apresiasi
dari seluruh unsur pimpinan ranting.
Akhirnya, untuk menindaklanjuti rencana tersebut, beberapa orang ( Bp
Hamdi, S.PdI, Edy Hansa, SE, Amar SE, Lutfi Achyani S.Pd ) melakukan
silaturrahim dan studi banding ke Pondok Al Manar Pengasihan Kulon Progo. Dan
untuk merealisasikan rencana tersebut, kami tidak hanya sekali datang
bersilaturrahim. Beberapa kali kami datang kesana untuk memantapkan rencana
pendirian pondok di Kaliwungu. Al hasil, dari studi banding tersebut kami
sampaikan ke pleno Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kaliwungu, hingga terbitlah Surat
Keputusan ( SK ) pengangkatan dan penetapan panitia pendirian pondok Al Manar
Muhammadiyah cabang Kaliwungu yang merupakan panitia gabungan dari unsur PRM
Krajankulon dan PCM Kaliwungu.
Penggunaan
nama Al Manar, karena kami menginginkan adanya pola pembelajaran dan kurikulum
yang sama dengan Pondok Al Manar Kulon Progo. Meskipun bukan fillial, tetapi
kami memang mengadopsi sistem pembelajaran dan kurikulum yang sama dengan
pondok Al Manar Kulon Progo. Penggunaan nama yang sama inipun, kami juga sudah
minta ijin dan persetujuan dari pengasuh pondok Al Manar Kulonprogo. Termasuk
logo pondok yang terdapat kemiripan diantara keduanya.
0 komentar:
Posting Komentar