Minggu, 26 April 2015

PROFIL PP AL MANAR MUHAMMADIYA KALIWUNGU (1)

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Muqodimah
Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan, diakui secara faktual tidak banyak memiliki lembaga pendidikan pondok pesantren. Jika mau kita bandingkan, jumlah pondok pesantren yang dimiliki / dikelola oleh Muhammadiyah, jumlahnya sangat tidak sebanding dengan lembaga pendidikan formal non pesantren ( umum ). Sehingga sangat kita rasakan, jika di Muhammadiyah kekurangan tenaga da’i dan mubaligh dari kalangan pesantren untuk kepentingan dakwah Muhammadiyah. Yang ada sekarang ini, banyak di dominasi oleh oleh para da’i dan mubaligh dari kalangan kampus. Hal ini ditegaskan oleh KH. MS. Ibnu Juraimi ( mantan Direktur Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah ). Kalaupun ada beberapa da’i dan mubaligh dilingkungan Muhammadiyah yang berasal dari kalangan pesantren, bisa dipastikan jika hampir sebagian besar bukan jebolan / alumni pondok pesantren Muhammadiyah. Sehingga apa yang disampaikan dalam dakwahnya, kadang tidak selaras atau kurang memahami apa yang menjadi substansi dari paham serta ideologi Muhammadiyah.
Senada dengan pendapat tersebut, KH. Ahmad Azhar Basyir, MA kepada Bp Zaini Munir Fadhali ( saat itu Ketua Majlis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY ) bahwa kalau Muhammadiyah tidak mengembangkan basis pendidikan keagamaan seperti pesantren, maka 20 tahun ke depan Muhammadiyah tidak layak lagi menyandang gelar ormas keagamaan. Muhammadiyah tidak akan ada bedanya dengan organisasi non keagamaan seperti KNPI, KOSGORO, dll. Bahkan mungkin juga tidak jauh beda dengan organisasi sosial politik karena ditubuh Muhammadiyah tidak ada lagi ‘ ruh spiritualitas ‘ dan cita – cita ideologis yang membedakannya dengan organisasi lain.

B.     Latar Belakang
Muhammadiyah sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang telah bertahan hingga 1 abad lebih, telah banyak memberikan sumbangsih pada kemajuan bangsa ini. Banyak tokoh – tokoh besar yang berjasa pada republik ini, lahir dari rahim Muhammadiyah. Juga diakui oleh banyak pihak, Muhammadiyah telah banyak melahirkan kaum cerdik cendikia hingga bangsa kita menjadi bangsa yang tercerahkan. Tidak hanya itu, Muhammadiyah juga tidak sedikit melahirkan ulama – ulama besar yang karenanya umat Islam di Indonesia tidak lagi termarginalkan seperti dulu. Banyak tokoh – tokoh Islam yang nota bene adalah juga tokoh Muhammadiyah, memegang peran penting dalam memajukan Islam di Indonesia. Mereka telah mampu menempatkan umat Islam pada posisi yang mulai diperhitungkan dalam interaksi nasional maupun internasional.
Secara umum, perkembangan Islam di Indonesia makin memberikan harapan bagi terbangunnya kekuatan Islam modern. Tapi secara spesifik, Muhammadiyah yang merupakan bagian dari Umat Islam__ yang keberadaannya sangat strategis bagi kemajuan Islam di Indonesia__, menghadapi tantangan besar yang harus di sikapi secara serius dan sungguh – sungguh. Sebagaimana diakui banyak pihak, Muhammadiyah memang menjadi gudangnya kaum intelektual. Tetapi Muhammadiyah makin hari makin dirasakan krisis kaum spiritual ( ulama ). Sebagai warga Muhammadiyah, tentu kita juga bisa merasakan bahwa memang saat ini Muhammadiyah mulai mengalami krisis ulama / tokoh agama. Dalam skala yang lebih kecil misalnya, di cabang Kaliwungu khususnya ranting Krajankulon. Jujur harus kita akui, kita semakin sulit untuk mendapatkan kader muda Muhammadiyah yang memiliki kemampuan sebagai dai dan mubaligh. Tidak sebanding dengan jumlah masjid dan musholla yang dididirikan yang bertebaran di hampir semua desa di wilayah kecamatan Kaliwungu. Yang terjadi justru, para pendakwah di masjid – masjid dan musholla milik persyarikatan Muhammadiyah adalah para pendakwah yang murni bukan kader / mubaligh Muhammadiyah. Inilah yang menjadi agenda besar bagi Muhammadiyah kedepan. Yaitu melahirkan kaum ulama – ilmuwan untuk menjaga kontinuitas dakwah Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan yang bercirikan gerakan amar ma’ruf nahi munkar.
Muhammadiyah boleh, atau bahkan harus banyak melahirkan tokoh politik dan kaum intelektual. Tetapi untuk menjaga “ ruh “ dan komitmen Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan yang senantiasa memberikan bimbingan, pencerahan, tentu juga wajib melahirkan lebih banyak lagi tokoh agama. Mengapa ? perlu kita ingat, Muhammadiyah berkembang di Indonesia hingga manca negara, di bawa oleh para ulama / tokoh agama. Orang tidak paham dan tidak akan menerima ideologi Muhammadiyah, jika yang menyampaikan / mendakwahkan organisasi ini tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup. Muhammadiyah bisa diterima di masyarakat sebagai sebuah ideologi yang bersumber pada Al Qur’an dan Hadits, pasti akan mengalami proses dialogis dan argumentatif. Lebih ekstrim lagi, bahkan sampai pada terjadinya pertentangan ideologis dengan paham – paham / ideologi lain. Secara logika, jika yang mendakwahkan Muhammadiyah tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup, bagaimana Muhammadiyah bisa diterima masyarakat luas ?
Kesimpulannya, jika Muhammadiyah krisis ulama, akankah Muhammadiyah tetap eksis dengan cita – cita ideologisnya ? Muhammadiyah memang akan terus berkembang di masa – masa yang akan datang. Tetapi barangkali, wajah Muhammadiyah yang akan datang berbeda dengan wajah Muhammadiyah pada awal – awal Muhammadiyah didirikan. Bisa jadi, Muhammadiyah yang akan datang, adalah Muhammadiyah yang kering akan nilai – nilai religiusitasnya. Tidak akan ada lagi “ ruh “ dalam tubuh Muhammadiyah yang menjadikannya sebagai organisasi sosial keagamaan dan kemasyarakatan yang senantiasa komitmen terhadap semangat amar ma’ruf nahi munkar. Yang ada adalah Muhammadiyah yang sarat dengan pragmatisme, materialisme dan sekuler / liberal. Tidak ada lagi Muhammadiyah yang komitmen terhadap nilai – nilai perjuangan, pengorbanan dan semangat mencerahkan. Oleh karena itu, penting memikirkan secara sungguh – sungguh agar Muhammadiyah jangan sampai mengalami krisis ulama. Melalui pendidikan Muhammadiyah yang menitikberatkan pada pengetahuan agama, lebih khusus lagi melalui pendidikan pondok pesantren, diharapkan Muhammadiyah akan terus melahirkan kader – kader ulama yang intelektual.
Dilatarbelakangi oleh keprihatinan kita bersama akan semakin krisisnya kader ulama dilingkungan Muhammadiyah, dan untuk merespon serta menjawab tantangan Muhammadiyah ke depan, maka Muhammadiyah ranting Krajankulon melalui rapat pimpinan, akhirnya memutuskan untuk mendirikan Pondok Pesantren “ AL MANAR “ diatas tanah wakaf seluas + 2.250 m2 yang terletak di kampung Sawahjati RT 02 / RW 04 dan RT 04 / RW 04 Desa Krajankulon Kec. Kaliwungu yang merupakan wakaf dari warga Muhammadiyah Hj. Musyarofah. Seiring berjalannya waktu, beban dan tanggung jawab untuk mendirikan pondok dengan harapan besar itu, terasa cukup berat jika hanya dipikul oleh pimpinan dan warga Muhammadiyah setingkat ranting. Atas masukan dan saran dari beberapa pimpinan yang lain, akan lebih mudah, ringan dan cepat jika pendirian pondok ini melibatkan Muhammadiyah tingkat cabang. Melalui pembicaraan dan diskusi yang intensif dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kaliwungu, diputuskan untuk memikul secara bersama – sama antara Pimpinan Ranting Muhammadiyah Krajankulon dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kaliwungu. Kemudian terbentuklah panitia pendiri Pondok Pesantren Al Manar Muhammadiyah Kaliwungu Kendal yang merupakan gabungan unsur pimpinan ranting dan cabang berdasarkan SK No : 336/IV.0/D/2013 tentang pengangkatan dan penetapan panitia pendiri Pondok Pesantren Al Manar Muhammadiyah Kaliwungu Kendal.
Ada satu hal yang perlu disampaikan di sini bahwa, penggunaan nama AL MANAR memang tidak terlepas dari Pondok Pesantren Al Manar Pengasihan Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Inipun bukan faktor kebetulan jika menggunakan nama yang sama. Ada fakta sejarah antara pondok Al Manar Kaliwungu dengan pondok Al Manar Kulon Progo. Perlu kami uraikan disini sebagai bagian dari sejarah pendirian pondok, ide awal pendirian pondok bermula saat beberapa kader Muhammadiyah seperti : Edy Hansa, SE, Amar SE, Lutfi Achyani, S.Pd mengadakan diskusi ringan dan informal disebuah kantin Pondok Darul Arqom IV Ringin Arum di sela – sela kegiatan RAPIMDA Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Kendal. Substansi dari diskusi tersebut adalah seputar keprihatinan kita mengenai masa depan Muhammadiyah khususnya cabang Kaliwungu yang mulai mengalami krisis kader ulama. Keprihatinan ini, sebelumnya juga pernah kami sampaikan pada Ust Syaefuddin yang merupakan kader Muhammadiyah asli Kaliwungu yang merupakan alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah ( PUTM ) PP Muhammadiyah. Yang bersangkutan saat ini dipercaya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al Manar Muhammadiyah Kulon Progo. Gayung bersambut, yang bersangkutan bersedia membantu dengan menawarkan kerja sama pendirian pondok di Kaliwungu. Wacana yang muncul pada saat itu adalah, pondok Kaliwungu nantinya merupakan fillial dari Pondok Al Manar Kulon Progo.
Dari hasil diskusi di kantin pondok Darul Arqom Ringin Arum, kami menginginkan pendirian pondok yang memang menjadi milik / amal usaha Muhammadiyah Krajankulon mengingat di ranting kami ada tanah wakaf seluas + 2.250 m2 yang sampai saat ini masih terbengkalai dan belum ada pemanfaatannya sama sekali. Dari diskusi itu, kami sepakat untuk membawa masalah ini ke rapat PRM Krajankulon. Alhamdulillah gagasan itu mendapat dukungan penuh dan apresiasi dari seluruh unsur pimpinan ranting.  Akhirnya, untuk menindaklanjuti rencana tersebut, beberapa orang ( Bp Hamdi, S.PdI, Edy Hansa, SE, Amar SE, Lutfi Achyani S.Pd ) melakukan silaturrahim dan studi banding ke Pondok Al Manar Pengasihan Kulon Progo. Dan untuk merealisasikan rencana tersebut, kami tidak hanya sekali datang bersilaturrahim. Beberapa kali kami datang kesana untuk memantapkan rencana pendirian pondok di Kaliwungu. Al hasil, dari studi banding tersebut kami sampaikan ke pleno Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kaliwungu, hingga terbitlah Surat Keputusan ( SK ) pengangkatan dan penetapan panitia pendirian pondok Al Manar Muhammadiyah cabang Kaliwungu yang merupakan panitia gabungan dari unsur PRM Krajankulon dan PCM Kaliwungu.

Penggunaan nama Al Manar, karena kami menginginkan adanya pola pembelajaran dan kurikulum yang sama dengan Pondok Al Manar Kulon Progo. Meskipun bukan fillial, tetapi kami memang mengadopsi sistem pembelajaran dan kurikulum yang sama dengan pondok Al Manar Kulon Progo. Penggunaan nama yang sama inipun, kami juga sudah minta ijin dan persetujuan dari pengasuh pondok Al Manar Kulonprogo. Termasuk logo pondok yang terdapat kemiripan diantara keduanya.

0 komentar:

Posting Komentar