5 Nasehat Malaikat Jibril Kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam*
![]() |
| Ngaji Ahad keempat bersama Ust. Mahtum Ali S. di Pondok Tahfidz al-Manar Kaliwungu |
عَنْ سَهْلِ
بْنِ سَعْدٍ ، قَالَ : جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ إِلَى النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، عِشْ مَا شِئْتَ
فَإِنَّكَ مَيِّتٌ ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ ،
وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ ثُمَّ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ
شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ.
Dari Sahal bin Sa’ad, dia berkata, Jibril as datang menemui Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam kemudian berkata: “Ya Muhammad, Ya Muhammad
hiduplah sesukamu tapi ingatlah kamu akan mati. Cintailah siapa saja yang kamu
cintai tetapi nanti pun kamu akan berpisah dengannya. Berbuatlah semau kamu
nanti pun kamu akan menerima balasannya.” Kemudian Jibril as berkata lagi:
“Wahai Muhammad, Sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin tergantung pada shalat
malamnya, dan harga diri seorang mukmin terletak pada ketidakbutuhannya terhaap
apa yang dimiliki orang lain.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dalama al-Mustadrok)
1.
Hiduplah sesuka
kamu, nanti pun kamu akan mati
Banyak cara dan model untuk hidup di dunia, silakan hidup sesuka
kamu, tapi ingatlah kamu akan mati, dan mati bukan berarti semua berakhir.
Kematian hanya merupakan pintu gerbang menuju kehidupan berikutnya, baik
tidakanya kehidupan setelah kematian tergantung kepada pilihan hidup di dunia.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ
النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا
مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang
berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran (3): 185)
2.
Cintailah apa
yang kamu cintai, nanti pun kamu berpisah
Rasa cinta memang ada. Ada 8 asnaf yang banyak dicintai manusia,
sebagaimana yang disebutkan dalam surat at-Taubah:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ
وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ
اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا
أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا
حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الْفَاسِقِينَ
Katakanlah:
"jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya,
dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan
Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik.
(at-Taubah (9): 24)
Yang dicintai belum tentu baik, yang dibenci belum tentu jelek
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ
كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ
تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا
تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas
kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui. (al-Baqarah
(2): 216
3. Berbuatlah semau kamu nanti pun kamu akan menerima balasannya
Dampak setiap perbuatan pasti ada, mungkin di dunia, apalagi di
akhirat. Pada zaman ini banyak orang yang berbuat kemaksiatan dengan
terang-terangan, bahkan bangga, diceritakan pada orang lain. Akibatnya orang
jadi ikut-ikutan, maka meratalah kemaksiatan yang akhirnya menjadi bangsa yang
rusak.
عَنْ سَالِمِ
بْنِ عَبْدِ اللهِ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ : سَمِعْتُ
رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : كُلُّ أَمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ
الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ
عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ
الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ
سِتْرَ اللهِ عَنْه.
Dari Salim bin Abdillah,
dia mengatakan, aku mendengar Abu Hurairah berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap umatku dimaafkan, kecuali
orang yang terang-terangan dalam melakukan dosa, dan termasuk dianggap
terang-terangan melakukan dosa ketika seseorang berbuat dosa di waktu malam,
lalu aibnya ditutup oleh Allah, lalu pagi harinya dia bercerita, wahai fulan
tadi malam aku berbuat begini dan begini. Dan sungguh di malam itu sudah ditutupi
oleh Allah (tidak diketahui orang lain), malah ia buka apa yang telah ditutupi
oleh Allah. (HR. al-Bukhari)
4.
Sesungguhnya
kemuliaan seorang mukmin tergantung pada shalat malamnya.
Ini adalah janji Allah dalam al-Qur’an
وَمِنَ
اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ
مَقَامًا مَحْمُودًا
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah
kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat
kamu ke tempat yang terpuji. (al-Isro’ (17)
: 79)
Shalat malam meningkatkan produktivitas kerja,
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه
وسلم قَالَ : يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ
نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ
فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ
انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا
طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ
Dari Abu Hurairah ra sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Setan
membuat ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika tidur dengan
tiga ikatan dan memasang ikatan itu dan berkata: ‘malam masih panjang, maka
tidurlah’. Jika orang tadi bangun lalu berzikir pada Allah SWT, maka
terlepaslah satu ikatan, jika dia berwudhu, maka terlepaslah satu ikatan lagi,
dan jika dia melaksanakan shalat, maka terlepaslah semua ikatannya. Pada akhirnya
dia akan menjadi segar dengan jiwa yang bersih. Jika tidak, dia akan bangun
dengan jiwa yang kotor yang diliputi rasa malas. (HR. al-Bukhari)
5. Harga diri seorang mukmin terletak pada ketidakbutuhannya terhadap
apa yang dimiliki orang lain. Belajarlah hidup mandiri, hindarai ketergantungan
kepada orang lain, jangan mudah-mudah meminta, hal itu akan merendahkan harga
diri.
عَنْ
أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «
لأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَتَصَدَّقَ بِهِ
وَيَسْتَغْنِىَ بِهِ مِنَ النَّاسِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلاً
أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ
السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
Dari Abu Hurairah ia berkata: Saya
mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berangkatnya salah
seorang di antara kalian pagi-pagi kemudian pulang dengan memikul kayu bakar di
punggungnya, lalu ia bersedekah dengan itu tanpa meminta-minta kepada orang
banyak, itu lebih baik baginya dari pada meminta-minta kepada orang banyak,
baik ia diberi ataupun tidak. Sesungguhnya tangan yang memberi itu lebih mulia
daripada tangan yang menerima. Dan dahulukan memberi orang yang menjadi
tanggunganmu.” (HR. Muslim).
Tuntunan Doa
dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada
suatu hari masuk masjid dan mendapati Abu Umamah, beliau bertanya: Ada apa
dengan duduk di masjid bukan pada waktu shalat? Dia menjawab: Kegundahan dan
hutang-hutangku ya Rasulullah! Beliau berkata: “Maukah aku ajarkan doa yang
bila kamu ucapkan setiap pagi dan sore maka Allah SWT akan menghilangkan
kegundahanmu dan melunaskan hutang-hutangmu?” Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ إِنِّيْ
أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَ الْحَزَنِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَ الْكَسَلِ
وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَ الْبُخْلِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ
وَ قَهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari
kegundahan dan kesedihan, dan aku berlindung kepadaMU dari kelemahan dan
kemalasan, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut dan bakhil, dan aku
berlindung kepadaMu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain.” (HR.
Abu Daud)
*Materi ini disampaikan oleh Ust.
Mahtum Ali Samhari, pada Ngaji Ahad Pagi, minggu keempat PCM Kaliwungu di Ponpes al-Manar Muhammadiyah Kaliwungu.

0 komentar:
Posting Komentar